HARI PAHLAWAN DAN PENDIDIKAN

CIREBON, IKMI.AC.ID – Setiap tanggal 10 November, kita sebagai bangsa Indonesaia memperingati hari Pahlawan. Apa arti pahlawan bagai kita? Dikutip dari Wikipedia, kata pahlawan (dari bahasa Persia:پهلوان, “pejuang; pahlawan”), wira, wirawan (bahasa Inggris: hero), atau wirawati (bahasa Inggris: heroine) adalah orang yang menonjol karena keberaniannya dan pengorbanannya dalam membela kebenaran, atau pejuang yang gagah berani.

Lantas untuk apa kita memperingati hari pahlawan tersebut? Dirangkum dari berbagai sumber, makna dari peringatan hari pahlawan adalah untuk mengenang dan menghormati perjuangan para pahlawan di masa lalu. Semangat juang tersebut pada masa itu, membuat mereka mampu berperang mengusir para penjajah. Selain itu, sesuai dengan temanya nilai-nilai perjuangan tersebut bukan hanya dikenang, melainkan juga untuk membangun kesadaran masyarakat agar mau meneladani dan mengimplementasikan nilai-nilai luhur pahlawan dalam kehidupan sehari-hari. Pada akhirnya semua itu diharapkan mampu memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa dengan dilandasi semangat dan nilai kepahlawanan. Juga meningkatkan rasa kecintaan serta kebanggaan sebagai bangsa dan Negara Indonesia.

Pahlawan nasional atau pahlawan yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia mayoritas berjuang secara fisik berhadapan langsung melawan penjajah. Namun, ada banyak aspek yang mendukung kemerdekaan Indonesia selain perang fisik. Pendidikan adalah salah satu bidang yang mendukung kemerdekaan Indonesia dengan mendukung kemampuan mental dan literasi penduduk Indonesia agar tak tertindas.

Pentingnya Hari Pahlawan juga tercermin dalam integrasinya dalam kurikulum pendidikan. Peringatan ini dapat dijadikan bagian integral dari pembelajaran, dengan mengaitkannya dengan mata pelajaran sejarah, kewarganegaraan, dan pendidikan karakter. Dengan demikian, peserta didik dapat merasakan relevansi dan urgensi nilai-nilai kebangsaan.

Lantas siapa saja para pahlawan kita khususnya di bidang Pendidikan? Berikut adalah daftar sepuluh orang para pahlawan di bidang pendidikan :

1. Raden Ajeng Kartini (1879-1904)

RA Kartini lahir di Jepara, Jawa Tengah pada 21 April 1879. Ayahnya adalah Bupati Jepara saat itu. Kartini hanya sekolah sampai SD. Meski hanya lulusan SD, ia memiliki semangat literasi yang sangat kuat. Ia sering membaca majalah dan buku yang mengisahkan kondisi wanita di Eropa yang merdeka. Setelah itu muncul keinginan Kartini mendirikan sekolah di Jepara yang pada akhirnya sekolah tersebut diberi nama “sekolah Kartini” di Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon, dan lain-lain. Kartini meninggal dalam usia 25 tahun saat melahirkan anak pertamanya pada 17 September 1904.

Kumpulan surat-suratnya diterbitkan menjadi buku dengan judul “Door Duisternis tot Lieht” (Habis Gelap Terbitlah Terang). R.A Kartini ditetapkan sebagai pahlawan nasional sesuai SK Presiden No. 108/TK/Tahun 1964.

2. Raden Dewi Sartika (1884-1947)

Raden Dewi Sartika lahir di Cicalengka, Jawa Barat pada 4 Desember 1884. Ayahnya adalah Raden Somanegara, Patih di Bandung. Sayangnya, dia dibuang beserta istrinya ke Ternate karena menentang Pemerintah Hindia Belanda. Pendidikan ditempuhnya sampai SD. Pada Usia 15 tahun dia tinggal di Bandung. Berkat bantuan dan dorongan kakeknya RAA Martanegara dan Hamer, Inspektur Kantor Pengajaran maka pada 16 Januari 1904 Dewi Sartika mendirikan sekolah yang diimpikan. Sekolah itu bernama Sekolah Istri. Tahun 1910 sekolah itu berganti nama menjadi Sekolah Keutamaan Istri. Sekolah sejenis ini kemudian berdiri juga di Kota Garut, Tasikmalaya, Purwakarta, dan sebagainya. Atas jasanya, ia diangugerahi bintang perak oleh pemerintah Hindia Belanda. Tahun 1929 sekolah itu memiliki gedung sendiri. Saat masa perang ia mengungsi ke Cinenan dan meninggal di sana pada 11 September 1947, selanjutnya jasadnya dipindahkan ke Bandung. Raden Dewi Sartika ditetapkan sebagai pahlawan nasional sesuai SK Presiden RI No. 252/Tahun 1966.

3. Roehana Koeddoes (1884-1972)

Dikutip dari laman stekom.ac.id, Roehana Koeddoes lahir di Koto Gadang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat pada 20 Desember 1884. Dia merupakan bibi dari penyair ulung Indonesia Chairil Anwar. Roehana adalah saudara tiri Sutan Sjahrir serta sepupu Agus Salim. Pada 1905, ia mendirikan sekolah artisanal di Koto Gadang. Selanjutnya, pada usia 24 tahun di 1908 ia menikah dengan Abdoel Koeddoes, seorang notaris. Pada 1911, dia mendirikan organisasi perempuan bernama Kerajinan Amai Setia dengan spirit mengajarkan keterampilan di luar tugas rumah tangga, seperti membaca tulisan Jawi dan Latin, serta mengelola rumah tangga. Dia mengusulkan pembuatan surat kabar tentang perempuan kepada Soetan Maharadja, pemimpin redaksi Oetoesan Melajoe. Akhirnya ia menjadi pemimpin redaksi Soenting Melajoe untuk terbitan pertama pada 10 Juli 1912 sebagai sebuah surat kabar berbahasa Melayu. Roehana meninggal di Jakarta pada tanggal 17 Agustus 1972 dan dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Karet Bivak. Roehana Koeddoes ditetapkan sebagai pahlawan nasional sesuai Surat Menteri Sosial RI No. 23/MS/A/09/2019.

4. Dokter Wahidin Sudirohusodo (1852-1917)

Dokter Wahidin ditetapkan sebagai pahlawan nasional sesuai SK Presiden RI No. 088/TK/Tahun 1973 ini lahir di Desa Mlati, Yogyakarta pada 7 Januari 1852. Setelah menyelesaikan Eropeesche Lagere School (SD Belanda), dia melanjutkan ke Sekola Dokter Jawa di Jakarta. Cita-citanya adalah memajukan pendidikan bangsanya. Ia berjuang dalam pendidikan dengan berkeliling ke pulau Jawa demi mencari dana untuk beasiswa bagi anak-anak cerdas. Mahasiswa STOVIA menanggapi usaha Wahidin dengan mendirikan organisasi bernama Budi Utomo. Pada 20 Mei 1908, Soetomo terpilih menjadi ketua. Wahidin meninggal di Yogyakarta pada 26 Mei 1917.

5. Abdul Muis (1883-1959)

Abdul Muis ditetapkan sebagai pahlawan nasional sesuai SK Presiden RI No. 218/Tahun 1959. Ia lahir di Sungai Puar dekat Bukittinggi, Sumatera Barat pada 3 Juli 1883. Dia sempat belajar di STOVIA, tapi tidak tamat. Dia berkecimpung di dunia warta, sejumlah karangannya di De Express banyak memuat kecaman terhadap tulisan-tulisan orang Belanda yang menghina bangsa Indonesia. Kemudian dia bergabung Sarekat Islam dan menjadi anggota pengurus besar. Tahun 1917 ia berhasil memprovokasi tokoh-tokoh Belanda untuk mendirikan Technische Hogeschool di Indonesia yang kemudian berubah nama menjadi Institut Teknologi Bandung (ITB).  Pada 1922, Abdul Muis memimpin pemogokan kaum buruh di Yogyakarta. Pada 1927, ia ditangkap dan diasingkan ke Garut, Jawa Barat. Pasca proklamasi kemerdekaan Indonesia, Abdul Muis membentuk Persatuan Perjuangan Priangan untuk membantu mempertahankan kemerdekaan. Dia meninggal di Bandung pada 17 Juni 1959 dan dimakamkan di sana.

6. M. G. R. Albertus Sugiyopranoto S.J (1896-1963)

Sugiyopranoto lahir di Solo pada 25 November 1896. Dia ditetapkan sebagai pahlawan nasional sesuai SK Presiden RI No. 152/Tahun 1963. Awalnya, ia belajar di HIS (SD Hindia Belanda). Dia melanjutkan ke sekolah guru dan tamat tahun 1915. Dia bertugas sebagai guru selama setahun. Tahun 1919, Sugiyopranoto dikirim ke Belanda untuk mendalami pengetahuan agama Kristen, bahasa Latin, bahasa Yunani dan filsafat. Setibanya di Tanah Air, ia berganti nama menjadi Frater Sugiyo dan bertugas di Muntilan sebagai guru ilmu pasti, bahasa Jawa, dan agama. Ia juga memimpin majalah mingguan Swara Tama. Pada 1940, dia diangkat menjadi vikaris apostolik untuk memangku jabatan Uskup Agung. Saat masa Agresi Militer II (1948-1949) dia menetap di Yogyakarta. Sugiyopranoto meninggal di Belanda pada 22 Juli 1963 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Giritunggal, Semarang.

7. R. Oto Iskandar Dinata (1897-1945)

Oto Iskandar Dinata lahir di Bandung pada 31 Maret 1897.  Setelah selesai HIS di Bandung, dia melanjutkan HKS (Sekolah Guru Atas) di Purworejo, Jawa Tengah. Pada 1928, dia mendirikan Sekolah Kartini. Pada masa penjajahan Belanda dia menjadi anggota Volksraad (dewan rakyat), sementara itu pada 1935 dia ditarik dari Volksraad karena memprotes pemerintah Belanda. Tahun 1939 dia bergabung dalam Gabungan Politik Indonesia (GAPI). Pada masa pendudukan Jepang, pasca partai-partai dibubarkan, ia aktif di surat kabar Warta Harian Cahaya. Selanjutnya dia menjadi anggota Jawa Hokokai (Badan Kebaktian Rakyat Jawa), dan anggota Cuo Sangi In (Dewan Perwakilan Rakyat). Menjelang proklamasi kemerdekaan Indonesia dirinya menjadi Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) dan turut menyusun UUD 1945. Dia menjadi Menteri Negara dalam kabinet RI. Oto Iskandar Dinata meninggal pada 20 Desember 1945 di Mauk (Banten) dibunuh dalam penculikan pada Oktober 1945. Dia ditetapkan sebagai pahlawan nasional sesuai SK Presiden RI No. 088/TK/Tahun 1973.

8. Ki Hajar Dewantara (1889-1959)

Ki Hajar Dewantara memiliki nama asli R. M. Suwardi Suryaningrat lahir di Yogyakarta pada 2 Mei 1889. Setelah selesai ELS (Sekolah Dasar Belanda), ia melanjutkan pelajarannya ke STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera), tapi tak sampai tamat karena sakit. Selanjutnya dia menulis di berbagai surat kabar, seperti Sedyotomo, Midden Java, De Express dan Utusan Hindia. Sebab tulisannya ia diasingkan ke Belanda. Pasca kepulangan dari pengasingan Ki Hajar Dewantara mendirikan perguruan Taman Siswa pada 3 Juli 1929. Perguruan ini bercorak nasional dan mencoba menanamkan rasa kebangsaan dalam jiwa anak didik. Pasca kemerdekaan Indonesia, Ki Hajar Dewantara pernah menjabat Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan. Ia meninggal di Yogyakarta pada 26 April dan dimakamkan di sana.

9. Kiai Ahmad Dahlan (1868-1923)

Kiai Ahmad Dahlan yang memiliki nama asli Muhammad Darwis ditetapkan sebagai pahlawan nasional sesuai SK Presiden RI No. 657/Tahun 1961. Dia lahir di Yogyakarta pada 1868. Ayahnya adalah Kiai Haji Abu Bakar, khatib masjid besar Kesultanan Yogyakarta. Tahun 1912, dia mendirikan Muhammadiyah. Kiai Ahmad Dahlan aktif mengadakan dakwah. Ia memberikan pelajaran agama bersamaan dengan pengetahuan umum yang dianggap tabu. Selanjutnya, Muhammadiyah berkembang pesat disertai berdirinya rumah sakit, poliklinik, dan rumah yatim riatu. Tahun 1918, dia mendirikan sekolah Aisyah untuk kemajuan ibu. Ditambah ia membentuk Hizbul Wathan bagi generasi muda. Kiai Ahmad Dahlan meninggal di Yogyakarta pada 23 Februari 1923.

10. Kiai Moh. Hasyim Asyari (1875-1947)

Kiai Hasyim Asyari merupakan pahlawan nasional sesuai SK Presiden RI No. 294/Tahun 1964. Dia termasuk pelopor persatuan umat dan tokoh modernisasi pesantren. Hasyim Asyari lahir di Demak pada 20 April 1875. Orang tua dan pendahulunya merupakan pemimpin pesantren terkenal. Saat usia 13 tahun, Kiai Hasyim sudah mampu mengajarkan beberapa buku agama kepada teman-temannya. Demi memperdalam pengetahuan agamanya, ia melanjutkan studi ke Mekkah pada 1896. Di sana ia tinggal selama tujuh tahun sekaligus melaksanakan ibadah haji. Setibanya di Tanah Air, ia menjadi pengajar di pesantren kakeknya. Sampai tiba suatu masa ia mendirikan pesantrennya sendiri di Desa Cukir, Jombang. Pesantren itu bernama Pesantren Tebu Ireng yang didirikan pada 1907. Organisasi Nahdlatul Ulama (NU) berdiri atas saran Hasyim Asyari. Organisasi ini menjadi wadah umat Islam. NU berdiri pada 1926 dan Hasyim Asyari terpilih sebagai Raisul Akbar atau pengurus besar. Kiai Hasyim Asyari meninggal di Tebuireng, Jombang pada 25 Juli 1947.

Banyak cara bagi kita dalam memperingati hari pahlawan diantaranya yaitu :

1. Upacara Bendera

2. Mengheningkan Cipta

3. Memasang Twibbon Hari Pahlawan di Media Sosial

4. Membagikan Ucapan Selamat Hari Pahlawan melalui medsos dan lainnya

5. Menonton Film Bertema Pahlawan

Adapun makna hari pahlawan bagi generasi muda penting dipahami agar menjadi acuan hidup berbangsa dan bernegara. Selamat memperingati hari pahlawan. (RK)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *