STMIK IKMI Cirebon Perkuat Kompetensi Dosen melalui Pelatihan LMS Terintegrasi

CIREBON – STMIK IKMI Cirebon terus memperkuat kapasitas sumber daya manusia, khususnya dosen, dalam menghadapi perkembangan teknologi pendidikan yang semakin pesat. Salah satu langkah yang dilakukan adalah menyelenggarakan pelatihan Learning Management System (LMS) Terintegrasi bagi para dosen.

Kegiatan tersebut dilaksanakan selama dua hari, mulai Jumat hingga Sabtu, 21–22 Agustus 2026, di lingkungan kampus STMIK IKMI Cirebon. Program ini dirancang sebagai bagian dari upaya institusi membangun ekosistem pembelajaran digital yang lebih efektif, efisien, terarah, dan memberikan dampak nyata terhadap kualitas proses pendidikan.

Pelatihan menghadirkan sejumlah narasumber yang memiliki kompetensi di bidang pendidikan dan teknologi pembelajaran. Salah satu narasumber utama adalah Dr. Ir. Rangga Firdaus, S.Kom., M.Kom. dari Universitas Lampung. Kegiatan tersebut juga menghadirkan Hartoto, S.Pd., M.Pd. dan M. Syahid, S.Pd., M.Pd. dari Universitas Negeri Makassar, dengan Rudi Kurniawan, S.Kom., M.T. bertindak sebagai moderator.

Dalam pemaparannya, Rangga menekankan bahwa implementasi LMS tidak cukup hanya dengan kemampuan teknis mengoperasikan sebuah platform. Dosen perlu memiliki kesiapan untuk mengubah pola pikir dan strategi pembelajaran sehingga teknologi benar-benar digunakan sebagai instrumen untuk meningkatkan kualitas proses belajar.

Menurutnya, pembelajaran digital seharusnya tidak dimaknai sebatas memindahkan bahan ajar dari bentuk cetak ke dalam ruang digital. Mengunggah buku, modul, atau dokumen ke LMS tanpa disertai interaksi pembelajaran, aktivitas mahasiswa, evaluasi, maupun strategi pedagogis yang tepat belum dapat disebut sebagai pembelajaran elektronik yang efektif.

Prinsip utama yang perlu dikedepankan adalah teknologi sebagai alat untuk mendukung pembelajaran, bukan menjadikan teknologi sebagai tujuan utama. Dengan demikian, keberhasilan penerapan LMS harus dilihat dari sejauh mana teknologi tersebut mampu meningkatkan pengalaman belajar mahasiswa dan membantu dosen mencapai tujuan pembelajaran.

Pelatihan juga memberikan perhatian terhadap penerapan blended learning, yaitu pendekatan yang mengombinasikan pembelajaran tatap muka dengan pembelajaran berbasis teknologi digital. Dosen diharapkan mampu menentukan kombinasi metode yang sesuai dengan karakteristik mata kuliah, kebutuhan mahasiswa, serta ketentuan yang berlaku di perguruan tinggi.

Selain LMS dan blended learning, perkembangan teknologi seperti Artificial Intelligence (AI) dan blockchain juga menjadi bagian dari konteks transformasi digital pendidikan. Pemanfaatan berbagai teknologi tersebut diarahkan bukan sekadar untuk mengikuti perkembangan teknologi, tetapi untuk memperkuat kompetensi dosen secara menyeluruh, baik dari sisi pengetahuan, keterampilan maupun sikap profesional.

Penguasaan teknologi digital juga dinilai dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi dosen. Kompetensi tersebut dapat mendukung aktivitas akademik, termasuk membuka peluang yang lebih besar dalam pengembangan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, termasuk peluang memperoleh pendanaan hibah dengan nilai yang signifikan.

Sementara itu, Ketua STMIK IKMI Cirebon, Assoc. Prof. Dr. Dadang Sudrajat, S.Si., M.Kom., menegaskan bahwa penguatan kompetensi dosen merupakan bagian penting dari strategi institusi dalam menghadapi perubahan dunia pendidikan.

Dosen, menurutnya, perlu meninggalkan pola pembelajaran yang sepenuhnya konvensional dan mulai memperkuat peran sebagai fasilitator pembelajaran yang mampu memanfaatkan teknologi. Perubahan teknologi berlangsung sangat cepat sehingga perguruan tinggi perlu melakukan adaptasi secara berkelanjutan agar tidak tertinggal.

Modernisasi ekosistem pendidikan juga tidak semata-mata dimaksudkan untuk mengikuti tren teknologi. Lebih dari itu, transformasi tersebut merupakan bagian dari tanggung jawab perguruan tinggi dalam memastikan lulusan memiliki kompetensi yang sesuai dengan perkembangan zaman dan kebutuhan dunia kerja.

Karakteristik generasi mahasiswa yang semakin dekat dengan teknologi digital juga menuntut dosen untuk terus memperbarui pendekatan pembelajaran. Model pembelajaran yang terlalu kaku, monoton, dan tidak memberikan ruang interaksi perlu dikembangkan menuju pembelajaran yang lebih adaptif, interaktif, dan relevan.

Dengan pelatihan LMS terintegrasi ini, STMIK IKMI Cirebon menunjukkan komitmennya untuk membangun budaya akademik yang semakin adaptif terhadap transformasi digital. Peningkatan kapasitas dosen di bidang teknologi pembelajaran diharapkan pada akhirnya memberikan dampak terhadap peningkatan mutu pembelajaran dan menghasilkan lulusan yang lebih siap menghadapi kebutuhan industri.

Sumber informasi: Radar Cirebon, artikel “STMIK IKMI Cirebon Genjot Kualitas Dosen Lewat Pelatihan LMS Terintegrasi”, 22 Agustus 2026. Baca artikel asli di Radar Cirebon

Telaah penting dari berita

Menurut saya, ada empat pesan strategis yang sangat kuat dari pemberitaan tersebut:

  1. LMS diposisikan sebagai ekosistem pembelajaran, bukan sekadar tempat menyimpan materi.
  2. Transformasi digital harus berpusat pada pedagogi, bukan sekadar penggunaan teknologi.
  3. Kompetensi digital dosen berkaitan dengan tridarma, karena kemampuan digital juga dapat mendukung penelitian dan pengabdian.
  4. STMIK IKMI Cirebon sedang membangun positioning sebagai perguruan tinggi yang adaptif terhadap transformasi digital, terutama melalui peningkatan kapasitas dosen.

Ada pula beberapa bagian artikel yang tampaknya merupakan salah ketik/redaksional, misalnya frasa “peningkatan kapasitas dosis digital” pada bagian akhir berita. Dalam konteks keseluruhan paragraf, sangat mungkin yang dimaksud adalah “peningkatan kapasitas dosen digital” atau peningkatan kapasitas digital dosen.

Jika tujuan Anda adalah menggunakan berita tersebut untuk website STMIK IKMI Cirebon, saya juga dapat mengubahnya menjadi berita resmi versi website kampus yang jauh lebih profesional, SEO-friendly, lebih kuat secara kelembagaan, dan tidak terkesan menyalin Radar Cirebon.

*BN*